Logo HUT RI
Menyambut HUT RI Ke-81 Tahun 2026 — "Desa Sinduwati Bangkit Lebih Kuat"

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA

Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur

00 Hari
00 Jam
00 Menit
00 Detik
17 Agustus 1945 ● 17 Agustus 2026
Jumat, 16 Oktober 2026
Total Pengunjung: 502
Logo Desa

Arsip Berita & Artikel

Agenda

Ups...!

Untuk sementara data bagian ini belum tersedia, mohon maaf atas ketidaknyamannya

Media Sosial Desa

Media Sosial
Desa Sinduwati Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem

Profile Desa

Jenis Tanah : Sawah
Topografi : Perbukitan
Sumber Daya Alam : Air, Pemandangan Alam
Flora Fauna : Bambu, monyet liar
Rawan Bencana : Banjir, Tanah Longsor
Kearifan Lokal : Tradisi, Budaya dan nilai-nilai leluhur yang masih dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat setempat (Awig-Awig, Pelestarian Kawasan Suci, Ritual dan Upacara Keagamaan Berkala, dan Tradisi Gotong Royong atau Ngayah)
Jenis Jaringan : Fiber Optik
Provider Internet : Telkomsel, Biru Desa, Iconnet, IM3, XL-Axiata
Cakupan Wilayah : Seluruh wilayah Desa Sinduwati
Kecepatan Internet : 50Mbps
Akses Publik : Belum adanya akses publik terhadap jaringan internet di desa atau tidak tersedia secara merata di seluruh wilayah desa
Status Desa : Bukan Adat
Lembaga Adat : Majelis Adat
Struktur Adat : -
Wilayah Adat : Wilayah Adat di desa meliputi keseluruhan areal teritorial adat yang batas-batasnya ditentukan secara turun-temurun berdasarkan Awig-awig serta kepercayaan masyarakat setempat. Wilayah ini terbagi ke dalam beberapa Banjar Adat atau Tempek yang masing-masing menaungi kawasan permukiman warga, areal Setra (Pemakaman Adat), serta kawasan suci tempat berdirinya Pura Kahyangan Tiga (Pura Desa, Pura Puseh, Dan Pura Dalem) beserta fasilitas penunjang kegiatan ritual keagamaan umat Hindu.
Kegiatan Adat : Kegiatan adat yang rutin dilaksanakan di desa meliputi rangkaian upacara keagamaan dan ritual berkala berdasarkan sistem penanggalan Hindu (Saka/Bali), seperti pelaksanaan upacara piodalan di Pura Kahyangan Tiga, upacara persembahyangan rutin pada hari Purnama dan Tilem, serta kegiatan gotong royong warga seperti ngayah dalam rangka persiapan upacara keagamaan dan pemeliharaan kebersihan areal suci serta fasilitas desa adat secara periodik.
Regulasi Penetapan [Desa] Adat :
Dokumen Regulasi Penetapan Kampung Adat : -

Video

Pemerintah Desa Sinduwati

Kecamatan Sidemen Kabupaten Karangasem Provinsi Bali

Alamat : Jl Raya Sinduwati Kode Pos : 80864



MAKNA TAHUN BARU MUHARRAM DAN REFLEKSI KARBALA DI 10 MUHARRAM

26

Juni
2026

Dibuka
397 kali

26 Juni 2026 ☆ 18:45:19

 

397 kali dibuka

 

Administrator

Sinduwati.web.id - Secara harfiah, Muharram berarti "yang diharamkan" atau "suci". Di bulan ini, Allah SWT melarang umat-Nya melakukan peperangan dan menzalimi diri sendiri. Menjadikan Muharram sebagai awal tahun adalah sebuah simbolisme yang kuat tentang pentingnya memulai segala sesuatu dari kesucian.

Tahun Baru Hijriah berakar dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Oleh karena itu, makna esensial dari tahun baru ini adalah semangat transformasi.

  • Hijrah Fisik ke Spiritual: Jika dahulu para sahabat berpindah tempat demi mempertahankan keimanan, hari ini kita ditantang untuk berhijrah secara maknawi—berpindah dari kebiasaan buruk menuju kebaikan, dari kemalasan menuju ketakwaan, dan dari egoisme menuju kepedulian sosial.

  • Waktu untuk Muhasabah: Muharram adalah momen terbaik untuk mengaudit diri (self-reflection). Apa saja yang telah kita perbuat di tahun lalu, dan bekal apa yang kita siapkan untuk menghadapi tahun yang baru?

Keutamaan 10 Muharram (Hari Asyura)

Memasuki hari kesepuluh Muharram, yang dikenal sebagai Hari Asyura, nilai kesucian bulan ini semakin memuncak. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk melaksanakan puasa Asyura, yang berdasarkan hadis sahih dapat menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu.

Secara historis, 10 Muharram adalah hari kemenangan bagi para nabi terdahulu. Pada hari ini, Nabi Nuh AS diselamatkan dari banjir besar, dan Nabi Musa AS bersama Bani Israil diselamatkan dari kejaran Firaun yang tenggelam di Laut Merah. Hari ini adalah simbol bahwa kebenaran pada akhirnya akan mengalahkan kebatilan.

Kedahsyatan Karbala: Luka dan Teladan Abadi

Namun, bagi sejarah Islam, 10 Muharram juga menorehkan luka sedalam lautan yang tak akan pernah kering. Pada hari Jumat, 10 Muharram tahun 61 Hijriah, terjadi Tragedi Karbala di Irak.

Cucu tercinta Rasulullah SAW, Imam Husain bin Ali, bersama keluarga dan sedikit sahabatnya (sekitar 72 orang), dibantai secara keji oleh pasukan Yazid bin Muawiyah yang berjumlah ribuan. Imam Husain gugur sebagai syahid setelah dikepung, kelaparan, dan kehausan di padang Karbala.

Mengapa peristiwa Karbala menjadi pengingat penting di bulan Muharram?

1. Puncak Pengorbanan Demi Prinsip Keberanian
Imam Husain tidak berangkat ke Karbala untuk merebut kekuasaan, melainkan untuk menolak memberikan legitimasi kepada penguasa yang zalim dan merusak sendi-sendi agama kakeknya. Karbala mengajarkan kita bahwa mempertahankan kebenaran (Al-Haq) membutuhkan pengorbanan yang total, bahkan jika harus mengorbankan nyawa.
2. Memisahkan antara Islam Spiritual dan Islam Politik Praktis
Tragedi Karbala menjadi pembeda yang jelas antara mereka yang memeluk Islam demi nilai-nilai luhur keadilan dengan mereka yang menggunakan jubah Islam demi syahwat politik dan kekuasaan. Kematian Husain justru menghidupkan kembali esensi Islam yang murni.
3. Cinta kepada Keluarga Nabi (Ahlul Bait)
Mengingat Karbala di bulan Muharram adalah cara umat Islam merawat rasa cinta dan empati kepada keturunan Nabi Muhammad SAW. Kesedihan atas apa yang menimpa Imam Husain adalah bahan bakar spiritual agar kita selalu membenci kezaliman, di mana pun dan oleh siapa pun hal itu dilakukan.

Tradisi memperingati 10 Muharram (Hari Asyura) di Indonesia sangat kaya dan beragam. Karena bulan Muharram menggabungkan momen kesucian nabi-nabi terdahulu sekaligus penghormatan atas Tragedi Karbala (gugurnya Imam Husain), tradisi lokal di berbagai daerah mencerminkan perpaduan antara rasa syukur, doa, dan ekspresi empati yang mendalam. Salah satu tradisi paling masif dan dikenal luas adalah pembuatan Bubur Asyura. Tradisi ini biasanya dilakukan secara gotong-royong oleh warga kampung atau jemaah masjid.

  • Filosofi: Konon, tradisi ini merujuk pada kisah Nabi Nuh AS saat kapalnya berlabuh setelah banjir besar. Untuk mengenyangkan umatnya, Nabi Nuh mengumpulkan sisa-sisa bahan makanan yang ada (biji-bijian, beras, umbi-umbian) lalu memasaknya menjadi bubur.

  • Keunikan: Bubur ini umumnya dimasak di kuali besar dengan campuran 7 hingga 41 macam bahan (tergantung adat daerah), mulai dari beras, kacang-kacangan, sayuran, hingga umbi-umbian. Setelah matang, bubur dibagikan ke tetangga dan anak yatim sebagai simbol keberkahan dan berbagi.

Tag : KIM

Kirim Komentar

Nama
No. Hp
E-mail
Isi Komentar
CAPTCHA Image
Komentar Facebook
jelajah
<

Desa Sinduwati

statistikdesa

Data Populasi Desa Sinduwati Kecamatan Sidemen Kabupaten Karangasem

2.543

LAKI-LAKI

2.529

PEREMPUAN

0

BELUM MENGISI

5.072

TOTAL

2.543

LAKI-LAKI

2.529

PEREMPUAN

0

BELUM MENGISI

5.072

TOTAL

Br Dinas

Layanan

Mandiri

Detail Layanan Mandiri

Hubungi Perangkat Desa Untuk mendapatkan PIN

Login Admin
Sekilas Info
Ke Atas Halaman

Desa Sinduwati

Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem Provinsi Provinsi Bali

Kode Desa : 5107022006

Domain : www.sinduwati.web.id

Untuk Aktivasi Tema Rangkiang
Silahkan Hubungi Pengembang